Sunday, March 2, 2014

proposal skripsi amdani darussalam












Pemanfaatan barang-Barang Bekas Sebagai Media Pembelajaran Matematika Serta Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Matematika

 Disusun Oleh :
Amdani Darussalam (201013500219)



Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indraprasta PGRI
JAKARTA



 

 
DAFTAR ISI


DAFTAR ISI ………………………………………….……     i
BAB I PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang …………………………………..     1
B.        Identifikasi Masalah ……………………………..    5
C.        Pembatasan Masalah ……………………………      6
D.        Rumusan Masalah ……………………………....      6
E.         Tujuan Penelitian ……………………………......     7
F.         Manfaat Penelitian ……………………………....     7
G.        Sistematika Penulisan ...........................................     7
BAB II     LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR
dan HIPOTESIS PENELITIAN
A.        Landasan Teori …………………………….........     9
1.    Hakikat Hasil Belajar Matematika ……….....     9
2.    Pemanfaatan Barang-Barang Bekas Sebagai
Media Pembelajaran Matematika …………...     22
B.        Kerangka Berfikir …………………….............     31
C.        Hipotesis Penelitian …………………………......     32
BAB III   METEDOLOGI PENELITIAN
A.        Tempat dan Waktu Penelitian ………………......      33
B.       
i
 
Metode Penelitian …………………………….....     34
C.        Populasi Sampel …………………........................     35
D.        Metode Pengumpulan Data ………………….......    36
E.         Instrumen Penelitian ………………………..........    37
F.         Metode Analisis Data ………………….................   43
G.        Hipotesis Statistik …………………………..........    49
DAFTAR PUSTAKA ............................................................    51






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Permasalahan dalam dunia pendidikan merupakan hal yang menarik untuk di kaji, mulai dari permasalahan yang menyangkut pelaku-pelaku pendidikan, sistem pendidikan,  dan lain sebagainya.  Pendidikan merupakan proses yang di tempuh untuk merubah sikap dan sifat seorang individu maupun sekelompok orang agar menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu perlu ada perhatian lebih kepada dunia pendidikan agar setiap individu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
1
Salah satu wadah untuk melaksanakan pendidikan adalah di Sekolah, di mana kegiatan pendidikan terstruktur secara hierarkis, mulai dari yang paling dasar hingga ke pembahasan yang lebih kompleks. Oleh karena itu setiap pelaksana pendidikan yang mengabdikan dirinya di sekolah  terutama Guru, harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar, agar tujuan pendidikan untuk merubah sikap dan sifat individu menjadi lebih baik bisa tercapai.
Kegiatan belajar mengajar merupakan proses terpenting untuk mencapai tujuan pendidikan, di mana guru berperan sebagai pembimbing kegiatan belajar, dan murid sebagai peserta kegiatan belajar. Oleh karena itu guru harus mampu memilah dan memilih cara belajar yang paling efektif untuk siswa-siswanya, terutama dalam pembelajaran matematika yang hingga saat kini masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, terbukti dari rendahnya minat belajar siswa dalam pelajaran matematika yang berimbas pada nilai ujian matematika siswa itu sendiri.
Ruseffendi, dkk. (1992: 15), mensinyalir kelemahan pelajaran matematika pada siswa Indonesia, karena pelajaran matematika di sekolah ditakuti bahkan dibenci siswa. Ketika siswa mengikuti proses pembelajaran matematika yang berlangsung di sekolah, mereka merasa jenuh akan pelajaran matematika, sama sekali tidak tertarik, malas belajar karena matematika dianggap ilmu yang kering, yang hanya merupakan kumpulan angka-angka dan rumus yang tidak dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. Mereka berpandangan belajar matematika di sekolah hanya sekedar diajari bagaimana siswa dapat menyelesaikan soal dengan baik yang kemudian menyebabkan munculnya sifat kebencian terhadap matematika.
Margiyanto (2009: 33) mengemukakan rendahnya minat belajar Matematika siswa berpengaruh pada hasil belajar Matematika. Hal ini disebabkan beberapa keadaan yang dialami oleh siswa, antara lain: (1) sifat siswa pemalas, kurangnya pengawasan belajar siswa oleh orang tua. (2) siswa kurang termotivasi, karena pada umumnya setelah lulus atau tamat tidak melanjutkan sekolah. (3) tidak ada teman belajar dirumah. (4) tidak mengusai materi, menganggap Matematika pelajaran yang sulit. (5) tidak mempunyai buku pelajaran/buku yang digunakan. (6) penjelasan guru yang kurang diterima oleh siswa. (7) banyaknya tugas yang kurang memperhatikan beban tanggung jawab siswa. (8) jenis tugas yang tidak sesuai dengan kondisi siswa, terlalu sulit. (9) guru kurang menarik dalam memberikan tugas. Suwarsono (Supatmono, 2009) faktor guru yang sering dianggap menjadi penyebab yang paling penting mengapa ada banyak siswa yang takut atau memiliki minat yang rendah terhadap Matematika. Dengan kenyataan ini guru hendaknya pandai-pandai menggunakan model pengajaran yang tepat, memberi motivasi agar siswa tidak patah semangat, lebih dekat dengan siswa agar siswa menyukai pelajaran matematika. Ini tidak mudah, namun bagaimanapun juga guru adalah jembatan bagi siswa untuk menyerap ilmu yang diajarkan.
Untuk mengubah sudut pandang matematika sebagai pelajaran yang sulit, guru harus menciptakan cara belajar yang lebih variatif dan tidak monoton, agar kegiatan belajar matematika menjadi lebih menyenangkan. Salah satu cara untuk menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan adalah menggunakan media pembelajaran. Dengan menggunakan media pembelajaran siswa tidak hanya di sugukan dengan konsep-konsep dan rumus-rumus matematika yang terlihat membosankan, tetapi siswa juga turut berperan aktif dalam memahami konsep matematika secara mandiri, tentunya masih dalam arahan dan bimbingan dari guru penyedia media pembelajaran tersebut.
Media Pembelajaran yang tersedia di toko-toko sangatlah banyak rupanya, mulai dari yang paling murah sampai yang paling mahal, semua itu disediakan untuk membantu proses pembelajaran matematika. Pada dasarnya, Media pembelajaran bisa berupa apa saja, asalkan sesuai dengan konsep dari pembahasan matematika, misalnya penggunaan dadu sebagai Media untuk menjelaskan konsep Peluang, penggunaan cermin untuk menjelaskan konsep refleksi, penggunaan jam dinding untuk menjelaskan konsep jam pada anak SD, dan lain sebagainya.
Media Pembelajaran Matematika tak perlu harus mahal, bagus, dan mewah, asalkan konsep matematika yang diajarkan guru dapat di cerna oleh siswa melalui perantara media pembelajaran tersebut. Mengingat masih banyaknya barang-barang bekas seperti kardus bekas, sedotan bekas, kaleng-kaleng bekas yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, menjadikan gagasan yang menarik dalam pembuatan media pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran Matematika.
Konsep yang ditawarkan oleh media pembelajaran ini sangatlah sederhana dan terbilang tak banyak makan biaya dalam proses pembuatannya. Selain dapat di gunakan sebagai media pembelajaran, hal ini juga dapat mengurangi banyaknya sampah seperti kardus bekas, dan ini juga akan mengubah sudut pandang kita mengenai barang-barang bekas, sehingga kita tidak memandang sebelah mata dan lebih kreatif lagi dalam memanfaatkan barang-barang bekas.
Dengan penggunaan Media Pembelajaran ini, diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran matematika, sehingga matematika tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan, dan untuk mengetahui seberapa besarnya pengaruh media pembelajaran dalam hasil belajar matematika, khususnya media pembelajaran yang memanfaatkan barang-barang bekas ini, maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu, peneliti tertarik mengadakan penelitian yang berjudul “Pemanfaatan Barang-Barang Bekas Sebagai Media Pembelajaran Matematika, Serta Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Matematika”.
B.     Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang diutarakan, dapat didefinisikan  beberapa masalah, antara lain:
1.      Masih banyak permasalahan dalam dunia pendidikan yang harus di kaji dan diselesaikan.
2.      Perlu ada perhatian lebih pada dunia pendidikan.
3.      Guru sebagai pembimbing kegiatan belajar harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
4.      Pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit
5.      Pemanfaatan barang-barang bekas sebagai media pembelajaran matematika.

C.    Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan fokus, maka perlu adanya pembatasan masalah. Dengan pertimbangan tersebut, maka dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada pemanfaatan barang-barang bekas sebagai media pembelajaran matematika serta pengaruhnya terhadap hasil belajar matematika.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah pada penelitian ini adalah “Seberapa kuatkah penggunaan media pembelajaran terutama yang terbuat dari barang-barang bekas mempengaruhi keberhasilan belajar Matematika Siswa”
E.     Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris tentang penggunaan media pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas, serta pengaruhnya terhadap hasil belajar Matematika.

F.     Manfaat  Penelitian
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat, bukan hanya bagi keberhasilan belajar siswa, namun juga untuk mengembangkan kekreatifitasan semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dalam memanfaatkan barang-barang bekas, terutama dalam membuat media pembelajaran untuk menunjang kegiatan belajar mengajar disekolah.

G.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri atas lima bab, antara lain:
BAB I       PENDAHULUAN
Merupakan bab yang memuat tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penelitian.
BAB II      LANDASAN TEORI
Merupakan bab yang memuat tentang landasan teori yang menguraikan teori-teori yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini, kerangka berpikir, serta hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini.
BAB III    METODOLOGI PENELITIAN
Merupakan bab yang memuat tentang metodologi penelitian, meliputi tempat dan waktu penelitian, metode penelitian yang digunakan, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data.
BAB IV    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Merupakan bab yang memuat tentang hasil penelitian dan pembahasannya.
BAB V      PENUTUP
Merupakan bab penutup yang memuat tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian, serta saran-saran yang berkaitan dengan kesimpulan yang diperoleh.


BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A.    Landasan Teori
1.      Hasil Belajar Matematika
a.      Pengertian Belajar
Manusia dilahirkan bagaikan kertas putih kosong, begitulah teori tabularasa yang diutarakan oleh seorang filsuf asal inggris Jhon locke. Seiring berlalunya waktu, kertas putih kosong dan bersih tersebut pun penuh dengan coretan-coretan, entah coretan hitam, maupun coretan putih. Salah satu orang yang paling berpengaruh dalam memberikan coretan pada kertas putih kosong tersebut adalah guru. Guru memberikan coretan kepada kertas putih kosong dan bersih tersebut melalui sebuah proses yang disebut proses belajar mengajar.
9
8
Menurut pendapat Hasanah (2005:4) bahwa “Belajar bertujuan mengadakan perubahan didalam diri antara lain tingkah laku. Perubahan tingkah laku akibat belajar bersifat positif”. Dari pengertian tersebut kita dapat menyimpulkan dengan belajar, kita dapat mengubah tingkah laku negatif menjadi positif, sehingga seorang yang perubahan tingkah laku tersebut dapat dikatakan telah mengalami proses belajar.
Menurut Ngalim Purwanto (1998 :84) dalam buku psikologi pendididkan mengemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan belajar yaitu :
1)   Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku,dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik tetapi juga ada kemungkinana mengarah kepada tingkah laku yang buruk.
2)   Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan – perubahan yang disebabakan oleh petumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti perubahan – perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
3)   Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relative mantap harus merupakan akhir daripada suatu proses waktu yang cukup panjang. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan – perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang
4)   Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik mupun psikis, seperti : Perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Menurut Dimyati dan Mujiono (2006), “belajar adalah seperangkat proses kognitif yang merubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru”. Dari pengertian tersebut, kita dapat mengetahui bahwa seseorang dikatakan telah belajar apabila terdapat perubahan pada dirinya.
Sedangkan menurut Witherington (Ngalim Purwanto, 1998 :84) mengemukakan bahwa “ Belajar adalah suatu perubahan kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu perintah”. Disini belajar dinyatakan dengan perubahan tingkah tingkah laku yang baru didapat dari kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai teori dan sudut pandang mengenai belajar yang diutarakan diatas, dapat kiranya kita tarik kesimpulan, bahwa belajar adalah kegiatan yang bertujuan mengubah tingkah laku, dari negatif menjadi positif, mengubah aspek kognitif yang sebelumnya tidak tahu, menjadi lebih tahu, mengubah aspek keterampilan, yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan, menjadi memiliki keterampilan.
b.      Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan faktor yang paling penting yang dijadikan sebagai tolak ukur dari kegiatan belajar siswa. Sejauh mana siswa dapat mencerna dan kemudian mengendapkan setiap pelajaran dalam pikirannya, bisa dilihat dalam hasil belajar ini. Slameto (2003 : 3) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi secara kesinambungan dan tidak statis.
Horward Kingsley (Sudjana, 2009 : 22), membagi tiga macam hasil belajar, yakni (1) keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan dan pengertian, (3) sikap dan cita-cita. Hal ini menunjukan bahwa Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya di nilai oleh segi nilai dari rapor atau ulangan saja, tetapi juga bisa terlihat dalam sikap, sifat dan keterampilan siswa.
Menurut Tiorenna (2011 : 96), “ada faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri siswa meliputi konsep diri, motivasi, kebiasaan, kecemasan, minat dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, meliputi metode mengajar, media pembelajaran, lingkungan belajar, keadaan sosial ekonomi dan sebagainya.
Untuk melihat hasil belajar perlu dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suat materi atau belum. Menurut Sudjana (2009 : 85 ), “Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu”. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Tingkah laku sebgai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik.
Seorang yang telah belajar bisa dilihat dari perubahan tingkah laku dalam dirinya. Tingkah laku tersebut bisa berupa pengetahuan secara kognitif, sikap dan sifat secara afektif, dan keterampilan secara psikomotorik. Perubahan tersebut terjadi karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungannya, bukan karena fisik dan kedewasaan secara alamiah, perubahan tersebut harus selalu meningkat, tidak berlangsung sesaat saja.
Dari uraian yang disebutkan diatas,  dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku berupa pengetahuan (kognitif) sikap dan sifat (afektif) serta keterampilan (psikomotorik).
c.       Konsep Matematika
Matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan (Jujun. S, 2009 : 190). Menurut Anwar matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis”.
Menurut Supardi (2013 : 82), “Matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar yang menekankan aktivitas dalam dunia rasio dari seluruh segi kehidupan manusia, mulai dari yang sederhana sampai pada yang paling kompleks”. Matematika sangat erat dengan kehidupan sehari-hari yang membutuhkan nalar untuk penyelesaiannya.
Menurut Supardi (2013 : 82), “Ada 5 (lima) alasan perlu belajar Matematika, yaitu karena Matematika merupakan : (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) saran untuk mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya”.
Maka dapat disimpulakn bahwa matematika merupakan ilmu eksak yang berhubungan dengan logika, penalaran, bilangan, operasi perhitungan, konsep-konsep abstrak, serta fakta-fakta kuantitatif berupa hubungan pola bentuk dan ruang, serta dapat menimbulkan suatu pola pikir yang masuk akal dan berguna untuk mengatasi berbagai persoalan dalam hidup sehari-hari.
Dari pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulakan bahwa matematika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tata cara  bernalar secara logis, guna membantu memecahkan permasalahan yang di hadapi sehari-hari.
d.      Ruang Lingkup Materi
Salah satu materi pelajaran Matematika SMP kelas VIII adalah Bangun Ruang. Menurut Raharjo (2008: 281) Bangun ruang adalah sebuah bangun yang memiliki luas dan volume.
i)Bagian-Bagian Bangun Ruang:
a)      Sisi: bidang pada bangun ruang yang membatasi antara bangun ruang dengan ruangan di sekitarnya.
b)      Rusuk: pertemuan dua sisi yang berupa ruas garis pada bangun ruang.
c)      Titik sudut: titik hasil pertemuan rusuk yang berjumlah tiga atau lebih.
                                                            ii.      Jenis-Jenis Bangun Ruang:
a)      Balok
Balok merupakan bangun ruang yang dibatasi 6 persegi panjang dimana 3 persegi panjang yang kongruen.

        A
    B

C
D
E
G

F
H
 





                                                           

i)      Sifat-Sifat Balok:
(1)     Memiliki 6 sisi berbentuk persegi panjang.
(2)     Memiliki 3 pasang bidang sisi berhadapan yang kongruen.
(3)     Memiliki 12 rusuk.
(4)     Memiliki 4 buah rusuk yang sejajar sama panjang.
(5)     Memiliki 8 titik sudut.

b)      Kubus
Kubus merupakan bangun ruang dengan 6 sisi sama besar (kongruen).

        A
B
 C
  D
E
G

   F
H
 





i)     Sifat-Sifat Kubus:
(1)   Memiliki 6 sisi berbentuk persegi.
(2)   Memiliki 12 rusuk yang sama panjang.
(3)   Memiliki 8 titik sudut.
(4)   Setiap sisinya berbentuk persegi.
c)      Prisma Tegak Segitiga
Prisma tegak segitiga merupakan bangun ruang yang alas dan atasnya berbentuk segitiga yang kongruen dan sejajar.



      A
        B
      D
        E
         F
        C
 


                               
i)           Sifat-Sifat Prisma Tegak segitiga:
(1)   Rusuk tegak prisma di sebut juga tinggi prisma.
(2)   Prisma segitiga memiliki bidang alas dan bidang atas berupa segitiga yang kongruen.
(3)   Prisma segitiga memiliki 5 sisi.
(4)   Prisma segitiga memiliki 9 rusuk.
(5)   Prisma segitiga memiliki 6 titik sudut.

d)     Limas
Limas adalah bangun ruang yang mempunyai bidang alas segi banyak dan dari bidang alas tersebut dibentuk suatu sisi berbentuk segitiga yang akan bertemu pada satu titik.
A
C
B
     T
D
 




                                                                  

i)    Sifat-Sifat Limas:
(1)    Memiliki titik puncak yang merupakan pertemuan beberapa buah segitiga.
(2)   Memiliki tinggi yang merupakan jarak dari titik puncak ke alas limas.
(3)   Alasnya berbentuk segitiga, segi empat, segi lima dan sebagainya. Nama limas disesuaikan dengan bentuk alasnya.
e)      Kerucut
Kerucut merupakan bangun ruang berbentuk limas yang alasnya berupa lingkaran.

t
r
 



i)    Sifat-Sifat Kerucut:
(1)   Alanya berbentuk lingkaran.
(2)   Memiliki sisi legkung sebagai selimut kerucut.
(3)   Memiliki titik puncak.
(4)   Jarak titik puncak ke alas disebut tinggi kerucut.
f)       Tabung           
Tabung merupakan bangun ruang berupa tegak dengan bidang alas dan atas berupa lingkaran.


r
t
 
                                                                                 
i)         Sifat-Sifat Tabung:
(1)   Memiliki sisi alas dan sisi atas berbentuk lingkaran yang sebangun dan sejajar.
(2)   Memiliki sisi lengkung yang disebut selimut tabung.
(3)   Tidak memiliki titik sudut.
(4)   Memiliki tinggi, yaitu jarak antara alas dengan sisi alas tabung.

e.       Hasil Belajar Matematika
                         Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku secara aktif, di mana murid lebih berperan dalam hal mengumpulkan informasi, baik dalam kelas maupun luar kelas. Belajar, apa pun pelajarannya harus dilakukan secara senang hati dan tidak ada tekanan, termasuk Matematika.
                        Matematika memiliki beberapa unit yang satu sama lain yang saling berhubungan, maka yang penting dalam belajar Matematika adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah Matematika. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa materi Matematika merupakan materi yang asbtrak. Keberhasilan pengajaran Matematika ditentukan oleh beberapa baik hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pelajaran. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika merupakan hasil kegiatan dari belajar Matematika dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan siswa. Tujuan dari pembelajaran Matematika sendiri adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis dan memiliki sifat objektif dalam memecahkan masalah. Tingkat kualitas dari pembelajaran matematika bergantung pada proses belajar siswa.
                        Hasil belajar Matematika merupakan indikator bagi seorang guru, apakah telah menyampaikan semua materi dengan baik atau tidak. Adanya perubahan dalam dalam diri siswa mengenai aspek kognitif, afektif dan psikomotor merupakan indikator yang dapat digunakan untuk mengukur dan mengamati sejauhmana keberhasilan siswa menyerap materi dalam proses pembelajaran Matematika baik kemampuan mengenai bilangan maupun konsep dan  logika pembelajaran matematika.
                        Hasil belajar Matematika adalah perubahan yang terjadi yang berupa peningkatkan kemampuan siswa dalam memahami fakta, konsep, prinsip, dan menggunakan dalam memecahkan masalah matematika dalam bentuk pengetahuan yang diterima siswa dari hasil pembelajaran yang telah di alaminya.
2.        Pemanfaatan Barang-Barang Bekas sebagai Media Pembelajaran
a.        Media Pembelajaran
          Salah satu upaya untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan adalah dengan menggunakan media pembelajaran. Media Pembelajaran dapat dengan mudah ditemui di toko-toko penyedia Media Pembelajaran. Berbicara tentang media tentu sangat erat kaitannya dengan komunikasi. Dalam proses pembelajaran termasuk pembelajaran matematika terjadi komunikasi antara guru dengan siswa dan juga antara siswa dengan siswa, karena pada hakekatnya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Dalam proses belajar mengajar tersebut, sebagai komunikannya adalah siswa dan sebagai komunikatornya adalah guru dan siswa. Dalam berkomunikasi, komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan. Agar pesan yang disampaikan (berupa pengetahuan, pengalaman, atau gagasan) dapat ditangkap, dipahami, dan dipelajari dengan baik oleh komunikan, maka komunikator harus memikirkan cara-cara komunikasi yang efektif, karena kesalahan komunikasi akan menimbulkan masalah.
          Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
          Peranan Media dalam proses belajar mengajar menurut Gerlac & Ely (1971:285) menegaskan bahwa ada tiga keistimewaan yang dimiliki media Pembelajaran, yaitu :
1.        Media memiliki kemampuan untuk menangkap, menyimpan dan menampilkan kembali suatu objek / kejadian.
2.        Media memiliki kemampuan untuk menampilkan kembali objek / kejadian dengan berbagai macam cara, di sesuaikan dengan keperluan.
3.        Media mempunyai kemampuan untuk menampilkan sesuatu objek / kejadiaan yang mengandung makna.
            Asosiasi Teknologi Dan Komunikasi Pendidikan (Association Of Education And Communication Technologi/ AECT) di amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, audiovisual adalah contoh-contohnya.
            Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca.
            Apa pun batasan yang diberikan, ada persamaan diantara batasan tersebut yaitu media adalah segala sesuatu yang dapat  digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi dan tujuan pembelajaran tercapai (Sadiman, dkk 2010: 7).
            Menurut Ade Rohayati (2008 : 12), Media yang baik harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:
  (1) Dapat menjelaskan konsep secara tepat,
  (2) Menarik,
  (3) Tahan lama,
  (4) Multi fungsi (dapat dipakai untuk menjelaskan berbagai konsep),
  (5) Ukurannya sesuai dengan ukuran siswa,
  (6) Murah dan mudah dibuat, dan
  (7) Mudah digunakan.
            Terdapat bermacam-macam media pembelajaran yang secara garis besarnya dapat digolongkan kedalam:
  1. Media objek fisik (model, alat peraga)
  2. Media grafis/ visual (poster, chart, dll.)
  3. Media proyeksi
  4. Media audio
  5. Media audio visual
            Berbagai manfaat media pembelajaran telah dibahas oleh banyak ahli. Menurut Kemp & Dayton (1985 : 3 – 4) meskipun telah lama disadari bahwa banyak keuntungan penggunaan media pembelajaran, penerimaannya serta pengintegrasiannya ke dalam program-program pengajaran berjalan amat lambat. Mereka mengemukakan beberapa hasil penelitian yang menunjukan dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral pembelajaran dikelas atau sebagai cara utama pembelajaran langsung sebagai berikut :
1.      Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengar penyajian melalui media menerima pesan yang sama. Meskipun para guru menafsirkan isi pelajaran dengan cara yang berbeda-beda, dengan penggunaan media ragam hasil tafsiran itu dapat dikurangi sehingga informasi yang sama dapat disampaikan kepada siswa sebagai landasan untuk pengkajian, latihan, dan aplikasi lebih lanjut.
2.      Pembelajaran bisa lebih menarik. Media dapat di assosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuatsiswa tetap terjaga dan memperhatikan. Kejelasan dan keruntutan pesan, daya tarikimage yang berubah-ubah, penggunaan efek khusus yang dapat menimbulkan keingin tahuan menyebabkan siswa tertawa dan berpikir, yang kesemuanya menunjukan bahwa media memiliki aspek motivasidan meningkatkan minat.
3.      Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan di terapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan.
4.      Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat karena kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinkannya dapat diserap oleh siswa.
5.      Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilamana integrasi kita dan gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik dan jelas.
6.      Pembelajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pembelajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.
7.      Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajar dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8.      Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif, beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam dalam proses belajar mengajar, misalnya sebagai konsultan atau penasihat siswa.
          Dari berbagai pendapat yang diutarakan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan dalam proses belajar mengajar, agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung dengan lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
b.      Barang-barang bekas sebagai media pembelajaran
          Banyak orang menganggap barang-barang bekas seperti dus bekas, kaleng-kaleng bekas, dan sedotan bekas tidak memiliki manfaat, nilai dan kegunaan, sehingga barang-barang bekas seperti dus tersebut dianggap sebagai sampah. Sampah merupakan barang-barang yang terbuang dan tak terpakai lagi, namun ketika barang-barang tersebut masih bisa digunakan dan dimanfaatkan, maka barang tersebut tidak disebut sampah.
          Ketika kita melihat sesuatu yang tidak memiliki manfaat dan kegunaan, sebenarnya sesuatu tersebut bukannya tidak berguna dan bermanfaat, kita lah yang belum bisa memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik. Ketika kita bisa memanfaatkan dan menggunakannya dengan baik, maka sesuatu yang awalnya kita anggap tidak bermanfaat dan tidak berguna, menjadi lebih bernilai. Salah satu pemanfaatan barang-barang bekas tersebut yaitu dengan menjadikannya sebagai media pembelajaran.
          Pemanfaatan barang-barang bekas seperti dus bekas, kaleng-kaleng bekas dan sedotan-sedotan bekas sebagai media pembelajaran matematika, merupakan salah satu upaya untuk memberikan nilai manfaat kepada barang-barang bekas seperti dus bekas, kaleng bekas dan sedotan-sedotan bekas. Tujuannya bukan hanya untuk memudahkan proses belajar mengajar, namun juga untuk mengurangi kuota sampah terutama yang berasal dari dus bekas dan kertas-kertas bekas yang semakin hari semakin meningkat, tercatat bahwa sampah kertas dan dus bekas menyumbangkan 468MJ/Ton atau sekitar 3% dari total sampah yang ada, selama kurun waktu hingga tahun 1986 (Wilde D dan Van Hille). Data tersebut diambil pada tahun 1986, bisa terbayang kuota sampah dari dus dan kertas pada tahun 2013 yang semakin bertambah, seiring bertambahnya penduduk dan industri pabrik sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar.
          Barang-barang bekas yang digunakan untuk menjelaskan konsep dimensi tiga ini terbilang sederhana dan mudah didapat, diantaranya yaitu dus-dus bekas, kaleng-kaleng bekas dan sedotan bekas. Dus bekas mie instan misalnya, bisa digunakan untuk menjelaskan konsep balok dan kubus, sedotan bisa digunakan untuk membuat rangka dari bangun-bangun dimensi tiga. Untuk membuatnya pun cukup mudah, kita hanya tinggal memberikan bungkus kado di bagian luar dus tersebut, sehingga terlihat lebih rapih. Untuk bangun ruang berupa limas, prisma, kerucut, kita harus memotong bagian dus dengan mengikuti aturan jaring-jaring dari bangun ruang limas, prisma dan kerucut lalu membentuknya menjadi limas, prisma dan kerucut. Untuk bangun ruang seperti tabung, kita bisa menggunakan kaleng bekas susu formula balita yang memang bentuknya sudah menyerupai sebuah tabung.
          Karena bangun ruang terdiri dari rusuk-rusuk yang membentuk rangka, maka rangka dari bangun-bangun ruang tersebut juga sangatlah penting untuk di jelaskan kepada siswa-siswi. Untuk menjelaskan konsep dari rangka bangun ruang, kita bisa menggunakan sedotan-sedotan bekas yang telah di bersihkan untuk di bentuk menjadi rangka dari bangun-bangun ruang seperti kubus, balok, limas dan prisma.
          Kegiatan ini bisa dilakukan oleh siapapun, bukan hanya guru, namun siswa-siswi pun bisa melakukannya. Sehingga proses belajar mengajar dan pembuatan media tidak monoton dipusatkan kepada guru seorang, namun semua ikut ambil bagian dalam membuat media tersebut, tak terkecuali siswa-siswi.

B.       Kerangka Berpikir
          Dalam proses belajar mengajar, guru harus mengupayakan agar kegiatan tersebut berjalan seefektif mungkin. Namun efektif bukan berarti harus serius dan kaku, efektif bisa juga tercipta dalam suasana yang menyenangkan yang dipenuhi canda tawa. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah dengan menggunakan media pembelajaran.
          Media pembelajaran memang beragam jenisnya, salah satunya adalah media pembelajaran yang memanfaatkan barang-barang bekas seperti dus bekas, sedotan bekas, dan kaleng bekas susu untuk menjelaskan konsep dari bangun ruang dimensi tiga. Selain barang-barang yang mudah didapat, pembuatan media ini pun bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk siswa-siswi itu sendiri.
          Hasil belajar matematika merupakan perubahan yang terjadi berupa peningkatan kemampuan siswa dalam memahami materi matematika dalam bentuk pengetahuan yang diterima siswa dari hasil pembelajaran yang telah dilakukannya. Maka dengan demikian diharapkan penggunaan media sebagai alat bantu pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. 
C.      Hipotesis Penelitian
          Berdasarkan kerangka berpikir dan landasan teori diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian yaitu : “Terdapat pengaruh dalam penggunaan Media Pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas terhadap hasil belajar matematika”



BAB III


METODOLOGI PENELITIAN
A.      Tempat dan Waktu Penelitian
1.        Tempat Penelitian
          Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muara Ilmu, yang terletak di JL. H Kenan Depok.
2.        Waktu Penelitian
          Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan, mulai dari bulan Februari 2014 hingga bulan April 2014. Jadwal secara umum dapat dinyatakan dalam tabel dibawah ini
Tabel  3.1. Jadwal Penelitian
No
Kegiatan
Februari
Maret
April
1
Persiapan
x
x










2
Pelaksanaan



x
x







3
Analisis Data






x
x




4
Pelaporan









x
x


33
 
B.   Metode Penelitian
                          1. Jenis Penelitian
          Dalam penelitian ini, Peneliti menggunakan metode penelitian Kuantitatif, berupa metode quasi eksperimen, yaitu model penelitian yang tidak memungkinkan peneliti untuk mengontrol semua yang relevan kecuali dari variabel-variabel tersebut. Dalam pelaksanaannya Peneliti melibatkan dua kelompok, yaitu kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dengan menggunakan Media pembelajaran saat guru menyampaikan materi, dan kelompok kelas kontrol yang tidak menggunakan Media pembelajaran saat guru menyampaikan materi.
2. Desain Penelitian
          Sesuai dengan hipotesis yang diajukan bahwa terdapat pengaruh antara variabel bebas “X” dengan variabel terikat “Y”. Maka desain penelitian di gambarkan sebagai berikut:
E : X                                                                                      Y
K : -                                                                                       Y
Keterangan :
E : Kelompok kelas eksperimen
K : kelompok kelas kontrol
X : perlakuan pada kelas eksperimen
                          -  : perlakuan pada kelas kontrol
                          Y : skor hasil belajar Matematika

             C.  Populasi dan Sampel
1.    Populasi Penelitian
       Populasi merupakan kelompok yang lebih besar dimana hasil penelitian diharapkan berlaku, semua anggota grup yang akan diteliti (Paul Suparno, 2007:43). Lebih lanjut, Suharsimi Arikunto (2010:173) mengemukakan, “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian”.
a.    Populasi Target
       Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Muara Ilmu.
b.        Populasi Terjangkau
       populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII SMP Muara Ilmu.
2.    Sampel
       Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (suharsimi Arikunto, 2010:174). Tidak ada aturan yang tegas tentang jumlah sampel yang dipersyaratkan untuk suatu penelitian dari populasi yang ada. Dikarenakan keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga maka tidak semua populasi diteliti, adapun siswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII sebanyak 20 siswa
3.    Teknik sampling
       Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampel atau sampel bertujuan. Sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah, tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu.
D.    Metode Pengumpuan Data
1.        Variabel Penelitian
     Supardi (2012 : 22) menjelaskan variabel adalah karakteristik yang diobservasi dari satuan pengamatan. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah :
a.       Variabel Bebas    : Media Pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas (X)
b.      Variabel Terikat  : Hasil Belajar Matematika (Y)
                   2.    Sumber data
a.    Data Media Pembelajaran
     Data tentang Media pembelajaran diperoleh dengan studi inventorium dokumen kepustakaan yang diperoleh melalui buku-buku dan jurnal.
b.       Data Hasil Belajar Matematika
     Data tentang hasil belajar matematika ini diperoleh dengan memberikan soal matematika kepada siswa yang dijadikan sampel penelitian. Soal berupa pilihan ganda dengan 4 alternatif pilihan jawaban.
E.  Instrumen Penelitian
       Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data harus dimantapkan kualitasnya melalui suat langkah yang dinamakan uji coba. Dari uji coba perangkat tes dipilih butir soal yang memenuhi tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan realibilitas.

1.        Definisi Konseptual
       Hasil belajar adalah tingkat keberhasilan dalam menguasai bidang studi matematika setelah memperoleh pengalaman atau proses belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu yang diperlihatkan melalui skor yang diperoleh dalam hasil tes belajar.
2.    Definisi Operasional
       Hasil belajar Matematika pada penelitian ini merupakan kemampuan-kemampuan pemecahan masalah matematika yang dapat diukur langsung dengan menggunakan tes hasil belajar matematika. Kemampuan tersebut menyatakan seberapa jauh atau seberapa besar tujuan pembelajaran atau instruksional yang telah di capai oleh siswa dalam belajar matematika. Skor tentang kemampuan ini diperoleh dari hasil tes belajar berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 soal untuk materi bangun ruang dimensi tiga.
3.    Kisi-kisi Instrumen
       Tes hasil belajar matematika siswa dalam bentuk pilihan ganda berdasarkan kriteria kemampuan masalah dan materi ajar yang dipelajari siswa yaitu Bangun Ruang Dimensi Tiga. Adapun kisi-kisi soal sebagai berikut :

Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
No. Soal
Jumlah

Mengenal dan Memahami sifat-sifat dan hubungan antarbangun
Mengidentifikasi   nama-nama bangun ruang
Menyebutkan nama-nama bangun ruang:
Kubus, kerucut, limas, dan tabung.
1,2,5,18
4

Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang
Menyebutkan sifat-sifat bangun ruang:
Kubus, tabung, dan balok
6,9,10,1,
14,15
6

Menentukan jaring-jaring bangun ruang
Jaring-jaring bangun ruang sederhana:
balok, kubus dan limas
3,8,12,1,
20
5



Menyelidiki sifat-sifat kesebangunan
Menyebutkan:
a.       sudut-sudut yang bersesuaian
b.      sisi-sisi dan luas yang bersesuaian
7,16,17,
19
4

Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan bangun ruang
Bangun ruang dalam kehidupan sehari-hari
4
1




20
    1. Pengujian Instrumen
a.        Pengujian Validitas
          Kesahihan atau validitas untuk menghitung instrumen Hasil belajar matematika berbentuk soal menggunakan rumus Point Biserial:
          r pbis  =  
     Keterangan :
r pbis      = koefisien Point Biserial
Mi        = rata-rata yang benar
Mt        = rata-rata total
St         = simpangan baku
         = proporsi benar
         = proporsi salah 
            Soal dikatakan valid jika nilai rhitung  lebih besar sama dengan 0,3 (rhitung  ≥ 0,3) dan soal dikatakan tidak valid jika nilai rhitung  lebih kecil sama dari 0,3 ( rhitung < 0,3).
b.  Pengujian Reliabilitas
         Reliabilitas instrumen hasil belajar matematika berbentuk soal dengan menggunakan rumus KR-20 yaitu:

                       r11 =  
Keterangan :
r11           = Reliabilitas instrumen
k          = Banyaknya butir pertanyaan
p          = Banyaknya subjek yang skornya 1/N (menjawab benar)
q   = Proporsi subjek yang mendapat skor 0 (menjawab salah)
∑pq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q
Vt              = Varians skor total
Menurut Arikunto (2010: 231) hasil perhitungan dari uji reliabilitas dapat diinterprestasikan sebagai berikut:
0,800< r11<1,000: reliabilitas soal sangat tinggi
0,600< r11<0,800: reliabilitas soal tinggi
0,400< r11<0,600: reliabilitas soal sedang
0,200< r11<0,400: reliabilitas soal rendah

c.    Pengujian Taraf Kesukaran
        Untuk menghitung indeks kesukaran ini digunakan rumus: 
       Keterangan:
P = Indeks kesukaran
B = Jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar
 = Jumlah siswa peserta tes
Indeks kesukaran menurut Arikunto (2009: 208) diklasifikasikan sebagai berikut:
P < 0,30 kategori soal tergolong sukar
0,30 < P <0,70 kategori soal tergolong sedang
P < 0,70 kategori soal tergolong mudah
d. Daya Beda Butir Soal
Daya beda adalah kemampuan untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan yang kurang pandai. Untuk menghitung daya pembeda digunakan rumus :
                       D = PA – PB                       dimana   PA =        dan     PB =       
Keterangan :
D  = Indeks daya pembeda
JA  = Jumlah peserta tes kelompok atas
JB  = Jumlah peserta tes kelompok bawah
BA  = Jumlah peserta kelompok atas menjawab benar
BB  = Jumlah peserta kelompok bawah menjawab benar
PA  = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB  = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Klasifikasi daya pembeda (Arikunto, 2009: 213)
D  = 0,00 – 0,20: jelek
D = 0,20 – 0,40: cukup
D = 0,40 – 0,70: baik
D = 0,70 – 1,00: baik sekali
F.        Metode Analisis Data
     Menurut Sudjana (2005 : 50), untuk memperoleh gambaran yang jelas, sistematis dan sifat-sifat yang penting dalam penyebaran data dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan mudah. Data yang diperoleh kemudian diteliti dan diselidiki dengan analisis statistik meliputi distribusi frekuensi, ukuran penyebaran dan pemusatan data. Selain itu menampilkan data dalam bentuk histogram.
1.             Teknik Analisis Data Deskriptif
a.     Distribusi Frekuensi
Langkah – langkah sebagai berikut :
1.    Menentukan nilai terkecil dan nilai terbesar, kemudian menentukan jangkauannya.
R = data terbesar – data terkecil
2.    Menentukan banyaknya kelas
K = 1 + 3.3 log n
3.    Menentukan panjangnya kelas interval
P =
4.    Menentukan kelas – kelasnya sedemikian sehingga mencakup semua nilai data.
b.    Menghitung ukuran pemusatan dan penyebaran data
1.    Menentukan rata-rata (mean)
                   
Dimana :
     : rata-rata sampel
  : frekuensi untuk nilai x1
    :  tanda kelas interval

2.    Menentukan median
Me = b+P
Dimana:
Me     : median
b        : tepi bawah kelas median
P        : panjang kelas median
n        : ukuran sampel/ banyaknya data
F        : frekuensi total sebelum kelas Me
f        : frekuensi kelas median
3.    Menentukan modus
Mo
Dimana :
Mo : modus
b    : tepi bawah kelas modus
p    : Panjang kelas interval
b1      : Selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas  sebelumnya
b2   : Selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya.

4.    Varians (SD) dan simpangan baku, dengan rumus :
Varians (SD)



Simpangan Baku
Dimana :
S : Standar Deviasi
n : Banyaknya data
xi   : Tanda kelas
fi    : Frekuensi yang sesuai dengan tanda kelas xi.

2.   Pengujian Persyaratan Analisis Data
a.    Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data hasil pengumpulan berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan uji Chi Kuadrat. Untuk uji Chi Kuadrat perlu dilakukan langkah berikut :
1.    Membuat Tabel Distribusi Frekuensi, dengan langkah-langkah:
a.               Mencari skor terbesar danskor terkecil
b.              Mencari nilai rentangan (R)
c.               Mencari banyaknya kelas (BK)
d.              Mencari nilai panjang kelas (i), dengan rumus:
2.    Mencari rata-rata
3.    Mencari simpangan baku
4.    Membuat Tabel Distribusi Frekuensi yang diharapkandengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.             Menentukan batas kelas, yaitu angka skor kiri kelas interval pertama dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor0skor kanan kelas interval ditambah 0,5
b.             Mencari nilai Z-score untuk tiap batas kelas, dengan rumus:
c.             Mencari luas 0 – Z dari Tabel Kurva Normal dari 0 – Z dengan menggunakan angka-angka untuk batas kelas
d.            Mencari luas tiap kelas interval dengan cara mengurangkan angka-angka 0 – Z yitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi baris ketiga, dan seterusnya, kecuali untuk angka yang berbeda (positif dan negatif) pada baris paling tengah dijumlahkan.
e.             Mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap kelas interval dengan jumlah responden.
5.    Mencari Chi-Kuadrat Hitung ( , dengan rumus :
6.    Membandingkan   dengan , dimana  diperoleh untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = k-1. Dengan kriteria :
Jika , berarti Distribusi data Tidak Normal.
Jika  , berarti Distribusi data Normal.
b.   Uji Homogenitas
     Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dibandingkan sejenis atau tidak. Uji homogenitas menggunakan uji varians terbesar dibandingkan varians terkecil menggunakan tabel F:
1.    Menentukan nilai Fhitung dengan rumus :
                        Fhitung =
2.  Menentukan nilai Ftabel untuk taraf signifikansi
3.  Membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, dengan kriteria :
     Jika Fhitung ≥ Ftabel, berarti tidak homogen
     Jika Fhitung ≤ Ftabel, berarti homogen
3.  Uji Hipotesis Penelitian
Uji Hipotesis penelitian menggunakan rumus uji t dua sampel dengan rumus :
                                Dimana :
                         = rata-rata variabel penelitian
                         = rata-rata variabel kontrol
                        Sgab =
                        n = jumlah sampel
                        kriteria Uji t:
-          Jika thitung < ttabel maka terima Ho, dengan arti terdapat perbedaan antara hasil belajar matematika dengan menggunakan media pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas dan yang tidak menggunakan media pembelajaran.
-          Jika thitung > ttabel maka tolak Ho dengan arti tidak terdapat perbedaan antara hasil belajar matematika dengan menggunakan media pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas dan yang tidak menggunakan media pembelajaran
G.            Hipotesis Statistik
Adapun Hipotesis yang akan dibagi sebagai berikut :
Ho :
H1 :
Dimana :
Ho = Tidak terdapat pengaruh dalam penggunaan Media Pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas terhadap hasil belajar matematika.
H1 =  Terdapat pengaruh dalam penggunaan Media Pembelajaran yang terbuat dari barang-barang bekas terhadap hasil belajar matematika


Daftar Pusataka

Agustina, Lasia. 2011. Pengaruh Media Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Matematika. Formatif 1(3) : 35-44
Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Hudoyo. 2003. Hakikat Matematika.  http://www.majalahpendidikan.com/hakikat-matematika.html 17:15 08/02/2013.
Purwanto, M. Ngalim. 2004. Ilmu Pendidikan Teoritis. Jakarta : Sinar Baru Algaesindo
Rohayati, Ade. 2008. Media Pembelajaran Matematika. Jakarta : Departemen Agama
Ruseffendi. 1989. Pengertian Matematika. http://cumanulisaja.blogspot.com/pengertian-matematika.html 17:20 08/02/2013.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka cipta.
Sudjana, Nana. 2005. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Sudrajat. 2006. Mengelola Sampah Kota. Jakarta : Penebar Swadaya.
Supardi. 2012. Peran Berpikir Kreatif dalam Proses Pembelajaran Matematika. Formatif.2(3) : 248-260.
Suryasumantri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT Penebar Swadaya.

No comments:

Post a Comment